Januari 25, 2009
Hafalan Shalat Delisa

Book’s review pertama yang ingin kubuat adalah untuk salah satu buku fiksi favoritku. Pertama baca kalau tidak salah di tahun 2005. Waktu itu masih pinjem. Tapi kemudian aku beli. Dengan tujuan tentu saja untuk dibaca lagi dan juga untuk mem-“promosikan” dan mengajak orang lain untuk membaca buku itu. Sudah ada dua temanku yang menjadi korban
. Mereka kuhadiahkan buku ini. Memang harganya tidak seberapa. Tapi aku memberikan sesuatu yang memang luar biasa. Membaca buku ini kita melihat dunia dalam perspektif seorang anak kecil cantik dan cerdas bernama Delisa.
Delisa seorang anak yang tomboy dan suka bermain sepakbola. Ia juga anak yang cerdas, keras kepala juga sangat lembut hatinya. Cerita mengalir disaat Delisa berusaha menghafal bacaan shalat seperti yang diminta ummi. Menghafal siang malam dengan satu tujuan. Mendapatkan liontin emas dengan bentuk huruf D. Itu janji ummi.
Dan hari itu pun tiba saat Delisa harus menyetorkan hafalan bacaan shalatnya di sekolah. Hari itu. Dua puluh enam Desember duaribu empat itu. Tsunami itu datang tanpa ampun. Tanpa memberikan Delisa kesempatan untuk menyelesaikan sujudnya. Seribu malaikat bertasbih. Seribu malaikat mengukung Lhok Nga. Turun menatap semua itu. Tapi tidak berbuat apa-apa.
Selepas tsunami Delisa kecil kebingungan. Rasanya tak adil dengan apa yang dialaminya. Delisa kemudian belajar begitu banyak. Dimulai saat praktek shalatnya di 26 Desember itu hingga seterusnya. Delisa belajar satu hal yang merupakan hal paling sulit. Yang para ulama dan ustadz mengejarnya. Yang untuk orang-orang muslim mencoba mencarinnya. Yang dengannya pintu surga akan terbuka lebar. Yaitu keikhlasan.
Jalan ceritanya sangat indah. Di tengah background cerita musibah tsunami di Aceh buku ini justru tidak membawa kita terus menerus sedih dengan kejadian itu. Tapi membaca buku ini membuat kita tersenyum. Ah, hidup ini indah ya. Dan aku memuji sekali Tere Liye pengarangnya. Enak sekali dibaca.
Aku mengutip sedikit dari buku ini (ini setelah 26 Desember 2009):
Delisa mau shalat sekarang. Delisa ingin menyetor hafalan itu langsung kepadaMu. Delisa ingin melakukannya sebelum semuanya terlambat.
Begitu saja, pikiran itu datang di kepalanya. Menuntun. Delisa menggerak-gerakkan jemarinnya. Delisa ingin mengulang hafalan bacaan shalat itu. Di tengah-tengah hujan deras ini. Langsung kepadaMu.
Gemetar bibir Delisa mengucap takbiratul-ihram.
”Al-la-hu-ak-bar…”
Dan Delisa seketika lupa kelanjutannya. Delisa lupa harus membaca apa sekarang? Delisa lupa seperti apa kata awal doa iftitah. Delisa benar-benar menatap kosong!
Ya Allah Delisa sungguh lupa. Lupa begitu saja. Semua kesedihan ini, semua pemandangan ini, semua kesakitan ini, semua perasaan ini. Delisa lupa. Bagaimanalah jadinya? Semua hafalan itu seperti tercerabut begitu saja dari otaknya. Tak berbekas sedikitpun. Delisa kelu menyadarinya. Delisa terpana tidak mengeti.
Dan setelah itu ada tambahan footnote dari pengarang. Bahwa disaat Delisa bingung mencoba mengerti kenapa hafalannya hilang, seribu malaikat menyiapkan sebuah istana untuknya di surga. Dengan huruf-huruf besar pada figura di depannya yang tertulis: Alisa Delisa.
Akankan malaikat akan membangunkan istana untuk kita pula di surga? Iri rasanya dengan Delisa.