November 10, 2011
Begitu minimnya informasi yang kubutuhkan dan kudapat dari dunia maya mengenai topik pada judul. So, I decided to share mine for anyone who need it. Sekarang ini aku masih dalam proses supaya bisa berangkat ke Aussie untuk belajar. Dan berangkat kesana insya Allah bersama keluarga, abinya bara dan bara
Untuk pengurusan visa dilakukan di AVAC dengan website http://www.vfs-au-id.com/
Jakarta
Plaza ASIA, Lt. 22, Zone C
Jalan Jendral Sudirman Kav 59
Jakarta 12190
Hari Kerja dan Jam Kerja: Senin – Jumat, 08.30 – 16.00
(Kecuali Hari Libur. Pilih menu “Jadwal Hari Libur Besar” untuk informasi lebih lanjut)
Penyerahan Permohonan Visa:
Agen Perjalanan: 08.30 – 12.00
Individual: 08.30 – 16.00
Pengambilan:
Agen Perjalanan: 08.30 – 12.00
Individual: 14.00 – 16.00
Email: info.diacid@vfshelpline.com
Untuk proses pengurusan visa pelajar yang dibutuhkan :
1. Formulir.
Karena infonya website untuk download formulir visa pelajar 157A sedang bermasalah. Jadi katanya harus kesana langsung.
Kalau anda berumur dibawah 18 thn, harus mengisi formulir tambahan.
2. Biaya visa
Bisa dilihat disini http://www.indonesia.embassy.gov.au/jakt/VisaFees.html
Untuk student visa biayanya Rp 5.410.000. Kalau untuk beasiswa AUSAID tidak bayar.
Ohya, jika membawa pasangan (suami atau isteri dan anak) biaya visanya sudah termasuk di biaya diatas.
Selain itu ada biaya administrari Rp 160.000 per paspor.
3. Foto 4×6
4. Paspor
5. COE (Certificate Of Enrollment) dari universitas yang telah menerima disana
5. Bukti legal hubungan dengan leluarga (KK, Buku Nikah, Akte Kelahiran)
6. Bukti pembayaran OSHC (Overseas Healthcare) selama akan tinggal disana
7.Mengikuti medical and x-ray examination
8. Bukti memiliki dana yang cukup dengan membawa buku tabungan, deposit dll
Dana ysng harus ditunjukkan mencakup dana :
a. biaya belajar
b. biaya pesawat pp
c. living cost
Living costs – $18,000 per year for yourself, plus
- $6,300 for your spouse (if applicable), plus (where applicable)
- $3,600 for your first child, plus
- $2,700 for each additional child
- $8,000 per annum (school costs) for each child aged 5 – 17 years (inclusive)
Jadi nanti dapat menyerahkan bukti berapa biaya yang ditanggung yang memberi beasiswa (dalam hal iniaku dibiayai Kementrian Kominfo) dan sisanya dari tabungan pribadi.
Kurang lebih itu saja. Kalau ada anak yang masuk usia sekolah diminta COE dari Australi juga. Tapi mengenai hal ini aku kurang tahu.
Kurang lebih itu informasi yang aku tahu. Semoga bermanfaat. Dan semoga lancar semua proses yang kujalani.
Jakarta, 10 November 2011
Sumber :
Berbagai sumber plus website AVAC http://www.vfs-au-id.com
Mei 31, 2011
Makan ora makan sing penting kumpul
Aku duduk di dalam pesawat Garuda dari Jakarta tujuan Denpasar. Beruntung saat ini aku duduk di kelas bisnis. Wuih, ini taraf pejabat eselon satu. Aku yang masih kroco ini mana mungkin naik ini kalau tidak dapat kompensansi karena adanya pembatalan pesawat yang sudah kureserved.
Ternyata memang lebih nyaman di kelas ini secaraaa… Baru duduk dah dikasih opening drink, terus ditawarin ini itu. Terus makanannya juga yang dikasih kok banyak. Dan yang paling nyaman, kursi bisa diset ala kasur. Nyaman deh kalo tidur.
Di segala kenyamanan ini, kurasakan ada yang kurang. There are no Bara and Abi beside me. Oh, how I miss them, even since I kissed them goodbye.
Sepertinya aku bukan tipe wanita karir yang bisa sering pulang malam atau sering having business trip leaving my family behind. Pengennya selalu bersama mereka.
There always are silver lines in every cloud. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Ada hikmah dibalik penugasan-penugasanku ke luar kota. Aku menjadi semakin bersyukur akan nikmat yang telah Allah berikan untukku. Pertama Allah mempertemukanku dengan suamiku yang sangat menggemaskan, his smile always make my day more joyful. Kedua, Allah memberi titipan Bara yang ceria, full of energy, yang pelukan eratnya selalu kurindukan. Alhamdulillah, kuuvap syukur kehadirat-Nya.
“Makan ora makan sing penting kumpul” Sekarang aku jadi mengerti mengenai filosofi itu. Dulu kukira itu pepatah manja. Kalau “family first” artinya mendahulukan keluarga. Maka pepatah jawa ini justru lebih sakti. Mau makan, mau engga makan yang penting keluarga kumpul!!
Maret 28, 2011
Pendaftaran day care
Pagi ini aku mendaftarkan Bara ke day care Little tree. Litle tree adalah salah satu program dari Family Tree education and counseling. Lokasinya di jalan camar raya bintaro, cukup representatif karena sejalan dengan jalurku untuk naik kereta dari stasiun pondok ranji. The plan is the three of us come to the day care, bara stay in the day care, my hubby put me in the station, and my hubby drive to his office.
Kenapa aku memilih day care sebagai tempat bara menghabiskan waktu siangnya? Alasan utamanya adalah aku ingin agar bara di waktu selain bersama ummi abinya bisa banyak bermain dalam konteks belajar. Jadi tidak asal main. Karena sekarang aku sadari sulit sekali mendapatkan ART atau nanny yang bisa menjaga sekaligus mengajak bermain dan belajar. Sangat sulit sekali. Tapi saat aku survey ke day care ini, aku melihat bahwa yang menjaga anak disana semuanya teacher bukan nanny. Dan mereka terlihat welcome dengan anak-anak.
Ada beberapa pertimbangan yang membuatku yakin untuk mengikutkan bara ke daycare little tree :
1. Ada koordinator yang akan mengawasi semua kegiatan
2. Ada schedule yang baik bermain bebas, belajar, tidur, makan, mandi
3. Anak dibimbing dan dijaga oleh teacher
4. Buanyak mainan disana. Karena bara suka bosan jika mainan atau apa ang dimainkan sedikit.
5. Lokasi dekat rumah. Jadi bara tidak capek dijalan. Dan lokasi sejalan perjalanan ke kantor.
Untuk biayanya tergantung ikut yang reguler (untuk paket satu bulan) atau non reguler. Aku ikut yang reguler. Jadi bisa sewaktu-waktu biayanya dibayar per hari. Biaya pendaftaran 300.000 rupiah dan biaya per hari 90.000 rupiah. Jika dibandingkan dengan gaji ART memang jauh.
Besok hari pertama bara akan memulai harinya di day care. Semoga bara betah dan banyak mendapatkan manfaat disana. Belajar motorik kasar, kemampuan verbal dan sosialiasi. Yang paling penting adalah bara dapat merasa nyaman, aman dan hepi disana.
Februari 14, 2011
Pengaduan SMS SPAM KTA
Akhir-akhir ini membantu ngurusin permasalahan SMS Spam yang sangat meresahkan. Beberapa kali ikut rapat, pernah juga diskusi di millis. Kesimpulannya benar-benar meresahkan!
Dalam UU Nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi pasal 21 Penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan, keamanan, atau ketertiban umum.”
Kalau dari sini kan jelas, hak-hak kenyaman dan ketertiban pelanggan terganggu. Pertanyaannya tepatkah menudingkan kesalahan ke operator, atau ke oknum pengirim sms spam?
Tapi menurutku hal ini jelas dipicu maraknya SMS gratis. Gimana engga, tarif SMS masih mengacu kepada kesepakatan operator yang memberlakukan SKA (Sender Keep All).
Begitulah.. SMS gratis menjadi senjata ampuh para tele-marketer untuk memasarkan produk mereka, ya KTA itu.
Untuk pengaduan SMS spam bisa ke hotline Bank Indonesia ke 0858 8850 9797 (ini aku dapat dari metro TV).
Hope helps..
Agustus 6, 2010
Feeling blue
Feeling blue tonight.
Don’t know what will happen tomorrow.
Don’t wanna do anything.
Just wanna lay down on the bed, waiting.
Waiting to get a smile.
Waiting to get a warm hug.
Waiting to sleep by his side.
Miss him.
Serpong, 5th August 2010
Agustus 3, 2010
Curhat ibu bekerja pejuang ASIX
Hari ini kembali kurasakan beratnya perjuangan seorang ibu bekerja untuk memberikan ASI kepada buah hatinya. Rapat anggaran yang semula dijadwalkan pkl 10.00 ternyata diundur menjadi pkl 14.00. Aku dan rekan kerjaku baru bisa sampai di tempat rapat 14.30 karena menunggu seseorang dari pihak ketiga pengerjaan proyek di kantorku yang datangnya telat dengan alasan ban gembos dan tidak bisa memberi info ke kami karena hp hilang. Karena datangnya agak telat, alhasil pembahasan rapat anggaran yang biasanya menggunakan sistem antri untuk tiap bagian, bagianku dapat belakangan. Padahal pembahasan satu bagian saja bisa 1 jam. Padahal ada 5 bagian lebih. Mungkin akan dipercepat, tapi kemungkinan selesai jam 7-an atau lebih.
Setiap hari aku meninggalkan 4 botol ASI untuk anakku Bara yang berumur 4,5 bulan. Itu dengan perhitungan aku pulang jam 3-an dari kantorku di kebon sirih, sampai rumah jam 4 lebih 15 menit.
Akhirnya kuputuskan untuk menyampaikan ke rekan kerjaku bahwa aku akan meninggalkan tempat rapat pkl 15.30. Itu dengan berat hati. Bagaimana tidak. Rasanya kasihan juga dengan rekanku Bu X yang harus menghadapi cecaran dari bagian keuangan yang rasanya menurutku seperti disidang. Dan lagi bu X itu harus sendirian sampai rapat selesai yang kemungkinan malam.
Aku sudah cek harga kamar di hotel tersebut termurah 690 rb. Oke lah aku keluarkan untuk Bara. Ide awalnya bara dibawa kesana. Tapi ternyata kamar hotel sudah booked semua.
Dan kalau bara dibawa ke tempat rapat tidak semudah itu. Persiapan, transportasi, belum kalau bara nangis-nangis di jalan seperti yang sebelumnya pernah terjadi, maunya keluar mobil, mungkin capek atau sumpek di mobil.
Kuputuskan untuk pulang saja meninggalkan rapat, dengan konskwensi meninggalkan tanggung jawabku di kantor, tidak mensupport rekan kerja, dan pulang dengan PD sangat penuh karena harus cepat-cepat pulang mengejar kereta (tidak ada waktu untuk perah). Alhasil kepalaku sekarang menjadi agak pening dan juga agak mual tidak tahu kenapa.
Aku selalu berdo’a untuk dapat memberikan asi eksklusif kepada bayiku. Aku berusaha memberikan yang terbaik. Tapi kadang kepala sepertinya berat dan badan seperti sudah tidak bertenaga, dan hati ini rasanya resah saja.
Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Bara baik dari tanganku atau dari tangan orang lain.
Curhatan seorang ibu yang bukan superwoman but wishing she is.
@ KRL ekonomi (tidak naik express krn cari yg tercepat), 3 Agustus 2010
Juli 23, 2010
Review cloth diapers vs popok sekali pakai
Membaca di blog-blog banyak sekali berseliweran informasi cerita pengalaman cloth diapers (red: yang sering disebut clodi) dan penjualan berbagai merk clodi tersebut. Banyak alasan kenapa kita lebih baik menggunakan clodi:
1. Lebih murah –> need to really calculate it
2. Go green –> Karena popok sekali pakai adalah limbah yang sulit didaur ulang. Ini memang benar, tidak terbayang jadinya popok-popok bekas pakai akan menggunung entah dimana.
Akhirnya aku juga mencoba memakai clodi untuk Bara mulai 3 bulan. Aku coba merk enphilia dan colababy. Review dari aku kalau untuk enphilia cocok dipakai dari newborn baby karena ukurannya kecil dan bahannya tebal. Sedangkan untuk coolababy walaupun di iklannya bisa sejak dari newborn, tapi walaupun bisa dikecilkan dengan kancing, menurutku untuk newborn tidak akan cukup. Khawatir akan bocor ke samping. Dari segi pencuciannya, jelas coolababy lebih cepat kering, karena bahan luarnya dari PUL (semacam sintetis mirip plastik yang waterprof tapi tetap breathable).
Untuk clodi seperti ini perlu pencucian yang khusus. Baiknya memang menggunakan mesin cuci. Jika menggunakan tangan, maka harus benar-benar dibilas berulang kali. Disinilah kendala untuk aku. Karena baby Bara dirumah ditinggal sama pengasuh. Aku tidak menjamin dia akan 100% telaten dalam hal itu. Atau kalau menggunakan mesin cuci berarti harus menunggu clodi sudah agak menumpuk. Itu berarti harus beli banyak clodi. Kenapa? Karena di Jakarta sering hujan, biasanya clodi agak lama keringnya. Kalau lagi sering hujan bisa 3 hari.
Pertimbangan kedua adalah dari kenyamanan. Tidak tahu kenapa aku melihat kalau Bara pakai diapers sekali pakai (red: selanjutnya disebut diapers aja ya biar engga kepanjangan) terlihat dia lebih nyaman. Karena lebih tipis, jadi sepertinya terasa lebih ringan. Kalau pake clodi terlihat lebih berat, karena dari clodinya plus insertnya yang lumayan tebal.
Pertimbangan ketiga adalah karena Bara (4 months 1 week) masih ASI, jadi pup-nya masih cair dan kuning yang sulit dibersihkan di liner luarnya.
Akhirnya sampai saat ini aku pakaikan diapers saja buat Bara. Hanya kadang-kadang pakai clodi. Mungkin kalau Bara sudah mulai MPASI aku pakaikan clodi untuk Bara. Maaf jadinya masih turut menambah sampah di bumi
Serpong, 23 Juli 2010
Ummu Bara ( a happy Mom with a cute baby boy)
Maret 23, 2010
Cerita Masa Kehamilan dan Melahirkan 1: Sang Pemburu Lalat
Alhamdulillah aku sudah menjadi ibu sekarang. Subhanallah begitu banyak pengalaman yang kurasakan mulai dari kehamilan, proses melahirkan hingga sekarang proses adaptasi seorang perempuan menjadi seorang ibu. Ingin sekali kuceritakan berbagai hal sejak lalu. Tapi karena selama hamil aku tetap kerja dan sampai rumah sudah tepar, jadi kupending dulu unforgatable moments yang ingin kutuangkan dalam ‘Diari Ummi’ ini.
Bukannya malah ingin menceritakan tentang dede kecil yang sekarang ada disampingku, atau pengalaman mengurus si kecil, sekarang aku ingin cerita tentang Sang Pemburu Lalat. Jadi ceritanya begini.. Tidak tahu mengapa, sejak dede Bara sudah dibawa ke my home sweet home di Serpong Tangerang Selatan, di rumah mulai bermunculan lalat. Eits, tapi lalat berdatangan bukan karena dede Bara lho. Mungkin karena sekarang sudah musim hujan, kadang panas terik, kadang hujan deras, jadi lalat-lalat berdatanglah ke rumah.
Lalat-lalat pun berdatangan tanpa ampun.
Dan dimana ada aksi, maka akan ada reaksi. Sang pemburu lalat pun datang. Beda dengan pemburu hantu atau Ghostbusters yang memiliki banyak gadgets, sang pemburu lalat beraksi dengan tangan kosong. Walaupun lalat terbang dengan kecepatan tinggi, sang pemburu lalat memiliki jurus-jurus jitu untuk menaklukkannnya. Memukul di saat lengahnya si lalat atau dengan memerangkap si lalat terlebih dahulu misal dengan korden jika si lalat sedang hinggap di dekat jendela. Sering aksinya harus dilakukan berkali-kali sampai akhirnya si lalat pun berhasil di lumpuhkan. Kadang pula dengan mata lelah karena kurang tidur, sang pemburu lalat dengan semangat 45 melakukan aksinya demi buah hati tersayangnya yaitu Bara. Yups, sang pemburu lalat itu adalah abinya Bara, suamiku tercinta.
Aku tahu bahwa abi sangat sayang dede bahkan sejak dede Bara masih dalam perutku. Buktinya abi selalu sabar mendengarkan curhatku via handphone dari kantor saat pinggang dan punggungku pegal dan ngilu. Abi juga selalu menyemangatiku di pagi hari untuk berangkat kerja. Abi juga setiap malam selalu menceritakan cerita untuk dede, membacakan Al Matsurat dan membacakan adzan atau iqomah sebelum shalat berjamaah berdua. Juga abi membantu perkerjaan rumah disaat aku terlihat tak berdaya di tempat tidur, istirahat. Belum lagi abi mendampingiku dari awal sampai akhir proses persalinan, membacakan surat-surat pada Al-Qur’an untuk menenangkanku saat kontraksi hingga akhirnya dede Bara keluar dari perutku. Pokoknya Super Dad deh. Alhamdulillah aku sudah mengalami dan merasakan perjuangan jihad seorang wanita yaitu melahirkan, yang Alhamdulillah pula bisa kujalani dengan baik dengan bantuan suamiku tercinta. Luv u hunnybunny!
Serpong, 22 Maret 2010
Januari 27, 2010
Infotainment? No!
Setelah sekian lama tidak nge-post something diblog ini, akhirnya kusediakan waktu khusus untuk mencorat-coret sedikit apa yang ada di pikiran, sambil menunggu suami pulang yang mungkin agak telat karena diluar hujan, hiks.. miss u..
Banyak yang bilang aku orangnya sabar. Setelah instropeksi diri, mungkin ada benarnya, tetapi sebenarnya kurang tepat. Aku orang nya berhati-hati. Pada saat ada hal-hal yang tidak kusukai, membuat hati kesal atau emosi, aku memang tidak terbiasa langsung menumpahkan. Aku berhati-hati, melihat kondisi yang ada. Yang pasti terpikir, dengan menumpahkan kekesalan apakah akan memperbaiki yang ada, akan berdampak positif atau justru malah membuat tambah kesal.
Apa yang membuatku kesal adalah infotainment. Salah satu program tontonan di TV yang ternyata justru ratingnya tinggi dan banyak ditunggu-tunggu ‘penikmat’-nya. Kadang bingung sendiri kok bisa ada yang menikmati acara seperti itu.
Infotainment adalah istilah kerennya dari acara gossip. Infotainment isinya apa aja? Ya, apa saja yang berhubungan dengan kehidupan artis. Jika ada artis yang mau menikah, pasti langsung ada liputannya. Bahkan sering dua artis remaja umur belasan tahun pun diwanwancarai kapan rencana nikah. Artis A lagi kelihatan dekat sama artis B pun heboh dikejar-kejar pertanyaan apakah mereka lagi ada hubungan atau enggak. Apalagi kalau ada info gonjang-ganjing dalam kehidupan pernikahan artis. Hebohnya bukan main. Mulai dari teman, saudara, tetangga dikorek-korek apa alasan retaknya kehidupan rumah tangganya. Dan kalu ada info sedikit mengenai orang ketiga, langsung semua infotainment di semua program TV memberitakan hal tersebut. Nauzdubillah.
Yang lebih aneh lagi, kalau lagi ga ada ‘hot news’, acara infotainment penuh dengan mengikuti kegiatan artis dalam kesehariannya,misal ikut artis makan di warung favoritnya, melihat artis mencuci sendiri mobilnya, melihat artis main-main sama hewan peliharaannya, dan masih banyak lagi hal-hal ‘informatif’ lainnya. Huh.. rasanya buang-buang waktu, buang-buang listrik lagi.
Di saat lagi kesal-kesalnya cari-cari deh hadist untuk menenangkan hati, dan ketemu hadist ini: “Tidak ada tegukan yang lebih besar pahalanya daripada orang yang meneguk kemarahan demi mengharapkan ridha Allah” (Ibnu Majah)
Mengenai infotainment, ormas islam terbesar di Indonesia bahkan sudah pernah menetapkan fatwa haram terhadap tayangan infotainment Juli 2006 lalu. Ini aku temukan saat membaca Koran Republika edisi 8 Januari 2010. Ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak agar tayangan-tayangan berbau gossip segera dihentikan. Beliau menilai bahwa infotainment gossip adalah pembunuhan karakter terhadap orang yang diberitakan, apa pun alasannya. Dan beliau mengajak pengelola infotainment untuk mencari rezeki yang halal di tengah sulitanya ekonomi bangsa Indonesia, bukan dengan ‘menjual’ berita-berita gossip.
Menggosip adalah menggunjing alias ghibah. Apa yang dimaksud dengan ghibah? Menurut HR Muslim ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu. Dan apabila yang dikatakan itu tidak benar, maka itu adalah dusta. Allah bahkan menyamakan pelaku ghibah seperti orang yang memakan bangkai. Dan mengenai ghibah juga banyak terdapat di hadist-hadist.
“… Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?..” (Al Hujurat:12)
“Pada malam perjalanan (Isra’) aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku mereka sendiri. Aku berkata, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang suka menggunjing dan menjatuhkan kehormatan orang lain.’” (HR Abu Dawud)
Di tengah-tengah kekesalannku dengan infotainment kadang timbul kebingungan. Kok, sepertinya kebanyakan orang disekelilingku fine-fine aja tuh nonton infotainment. Justru berita di infotainment menjadi topik pembicaraan. Nah, kalau ada yang sudah mengajak ngobrol-ngobrol tentang kehiduan artis, paling aku senyum-senyum aja, kadang menanggapi juga untuk menghargai. Not more than that! Padahal Dalam hati sih istighfar dan pengen rasanya kabur ke tempat lain. Lama-lama makan ati kan ga enak juga kan.. Di tengah-tengah kebingungan kenapa banyak yang artis-oriented, Alhamdulillah aku menemukan ketenangan bersama teman-temanku di pondok pinang. Teman-teman yang istiqomah bertemu tiap pekan untuk menimba ilmu, saling memotivasi dan selalu saling mengingatkan. Begitu pula dengan teman-teman kuliahku dulu. Walaupun jarang ketemu, tapi setiap pertemuan terasa begitu berharga. Terasa nyaman.
Aku punya definisi sendiri mengenai kata “ghuroba” atau orang asing. Tidak tahu benar atau tidak maksudnya. Tapi di pikiranku ghuroba adalah orang yang seperti orang asing-asing di tengah keramaian atau orang-orang di sekitarnya. Di saat perempuan-perempuan berdandan habis-habisan berusaha terlihat senatural mungkin seperti dian sastro, atau dandanan agak heboh dikit ala Sandra Dewi, ada orang (perempuan) yang asing yang justru menutup tubuhnya dengan pakaian yang tidak membentuk tubuh dan hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangannya saja. Di saat wanita-wanita berlomba mencari dokter kandungan yang terbaik untuk kelahiran caesar dan sudah memilah-milih susu formula terbaik untuk bayinya, masih ada wanita-wanita asing yang memburu dokter yang pro normal dan justru ketakutan jika nanti bagaimana kalau ASI tidak keluar. Banyak orang-orang yang kerjaannya ngomongin artis terus. Semoga orang-orang seperti itu bisa jadi artis atau bisa cari pacar artis atau punya temen artis atau anaknya nanti bisa jadi artis. Hehe, yang penting everybody happy kan..
Curhatan ini tujuannya juga intinya untuk menyemangati diri sendiri. Ya.. bikin heppi diri sendiri aja. Yang pasti aku sendiri jauh dari sempurna, tapi kita berusaha yang terbaik untuk membentengi diri sendiri, dan berusaha menjadi lebih baik. Namanya juga usaha.. hehe..
“Di antara (tanda) baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi)
Nah,mengenai infotainment ini kadang merasa seperti ghuroba alias orang asing. Tapi saat mengingat masih ada teman-teman seiman dan mengingat materi-materi urgensi dan berbagai keutamaan yang pernah kudapat dan juga pernah kuberikan, aku jadi semangat lagi. Infotainment, no. Ghuroba, yes!!
Allahualam.
Serpong, 21 Januari 2010
Juni 4, 2009
Berlari itu lebih lelah
Jum’at lalu denga terburu-buru aku naik ojeg dari Sarinah menuju stasiun Gondangdia dengan membawa sandal cantik yang baru kubeli disana. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, jadi aku pun berjalan terburu-buru menaiki tangga stasiun. Alhamdulillah kereta yang akan kunaiki belum datang, dan aku pun bertemu dengan temanku untuk sama-sama berangkat ke Bekasi. Kami akan ke Bekasi untuk menghadiri walimahan teman esoknya. Kami datang semalam sebelumnya untuk menghindari agar tidak terlambat sampai ke acara. Maklum kami panitia.

Temanku yang jarang menggunakan kereta sebagai alat transportasi sehari-hari menyampaikan keheranannya. Kok orang-orang di stasiun kebanyakan terburu-buru bahkan berlari. Aku bilang bahwa itu hal biasa. Di stasiun tanah abang hal serupa juga menjadi hal yang lumrah. Kalau dipikir-pikir memang lucu juga. Kalau pagi biasanya aku sering melihat orang berlari-lari mengejar kereta. Ada yang sambil membawa tas berat (yang sepertinya berisi laptop), berlari-lari dengan hebohnya dengan sepatu berhak 3 cm. Hihi, ini kok seperti aku ya.. Intinya semua berlari supaya tidak ketinggalan kereta, dan tidak terlambat sampai ke tujuan.
Kemudian terpikir hidup ini penuh dengan ”berlari” ya. Begitulah yang kurasa dalam hidupku. Waktu di kuliah dulu, saat alhamdulillah aku mendapatkan hidayah-Nya, aku merasa jauh tertinggal dari temen-temanku. Saat kusadari bahwa hidup ini hanya sekali, maka kita harus memanfaatkannya dengan menjalani hidup sesuai fitrahnya yaitu ibadah. Saat itu aku cukup kaget, apa yang harus dilakukan, banyak bekal yang belum dimiliki. Akhirnya aku ”berlari”. Banyak belajar dan bertanya ini itu. Ternyata cukup melelahkan, kenapa? Karena banyak hal yang berubah. Tapi alhamdulillah kurasakan bahwa hasil ”berlari”-ku dulu menjadi bekal yang berharga saat ini, saat aku dilepas di ”alam liar” yang sering disebut sebagai the real world. Sebuah dunia yang jauh dari lingkungan kondusif seperti kampus yang kesehariannya dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan tarbiyah. Now, I’m in the real world, where we can found lion, tiger and alligator. It’s a wild forest truly.
Berlari berbeda dengan berjalan. Berjalan adalah berpindah tempat dari satu titik ke titik lain. Sedangkan berlari berpindah tempat dari satu titik ke titik yang lain dalam waktu yang cepat karena dilakukan dengan usaha lebih keras, lebih lelah. Sebuah perjuangan. Sebuah pengorbanan. Sering kagum dengan para sahabat. Bagaimana tadhiyah (pengorbanan) mereka yang luar biasa untuk memperjuangkan din mereka. Saat keluar perintah untuk berhijrah, mereka meninggalkan kampung halamannya, mata pencahariannya, tanahnya, hartanya,bahkan ada yang meninggalkan keluarganya. Subhanallah ya.
Sampai sekarang pun walaupun begitu seringnya ku mendengar kisah-kisah heroik para sahabat, bagaimana mereka dengan gagah berani maju ke medan jihad dengan satu tujuan, meraih syahid, hati ini selalu tergetar. Saat kaum kafir telah mereka kalahkan, dan pulang dengan membawa kemenangan, kembali mereka merindukan kapan akan meraih kesyahidan. Subhanallah. Nah, itu baru dapat kusebut ”berlari”. Sebuah pengorbanan dan perjuangan dengan segenap jiwa untuk suatu tujuan yang pasti. Untuk suatu tujuan yang sudah terpatri di depan mata-mata mereka.
Mengutip dari alm Sigit Firmansyah, yang kudapat dari seorang teman ”Sesungguhnya surga itu hanya terdefinisi pada hati seorang pejuang.” Kenapa harus berlari. Kenapa tidak hanya berjalan. Toh, sama-sama saja kan. Manusia kan memiliki keterbatasan, jadi masa’ sih harus berlebihan dalam berusaha, dalam melakukan sesuatu. Seorang pejuang tidak akan mungkin berpikir demikian. Mereka memiliki satu tujuan. Dan tujuan tersebut menjadi cambuk bagi mereka. Tujuan itu membuncah menjadi sebuah kerinduan yang luar biasa. Tujuan itu menjadi sebuah energi raksasa yang meluap keluar menjadi sebuah pengorbanan berupa apa saja yang dapat mereka korbankan. Tujuan itu adalah meraih surga-Nya. Surga yang dipenuhi dengan buah-buahan lezat, minuman-minuman yang kenikmatannya tidak ada tadingannya di dunia. Surga yang didalamnya orang-orang beriman akan dipertemukan dengan Rasul-Nya. Surga dimana orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan pahala yang terbaik yaitu berjumpa dengan Rabb-nya.
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat RabbNya”. [Al-Qiyamah : 22-23]
Dari Shuhaib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli Surga telah masuk ke Surga, Allah berkata: ‘Apakah kalian ingin tambahan sesuatu dari-Ku?’ Kata mereka: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam Surga dan menyelamatkan kami dari api Neraka?’ Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang paling mereka cintai melainkan melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Kemudian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.’” [Yunus: 26]
Allahu’alam bishawab.
8 Mei 2009
